Raker III FSPP Banten, Wamenag Romo Syafii Sebut Pesantren Benteng Terkuat Melawan Narkoba

Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Muhammad Syafii, menegaskan bahwa pondok pesantren memiliki peran strategis sebagai benteng sosial dalam mencegah peredaran dan penyalahgunaan narkoba di Indonesia. Pernyataan tersebut ia sampaikan saat menghadiri Rapat Kerja III Forum Silaturrahim Pondok Pesantren Provinsi Banten (FSPP) yang dirangkaikan dengan sarasehan serta buka puasa bersama di Tangerang, Provinsi Banten, Rabu (4/3).

Dalam forum yang mempertemukan unsur pesantren, perguruan tinggi, dan lembaga pemerintah itu, Romo Syafii menilai sistem pendidikan dan kultur kehidupan di pesantren telah terbukti menjadi pelindung kuat bagi generasi muda dari pengaruh negatif, termasuk bahaya narkotika.

“Pesantren ini sebenarnya adalah safety belt terbesar dan terkuat di republik ini. Pesantren itu betul-betul menjadi sabuk yang sangat kuat untuk menjaga kehidupan anak bangsa di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Badan Narkotika Nasional tidak akan capek jika memperkuat pesantren, karena pesantren adalah tempat yang aman,” kata Romo.

Kegiatan tersebut mengangkat tema sinergi antara pesantren dan perguruan tinggi dalam memperkuat ketahanan pangan, kedaulatan ekonomi umat, serta gerakan bersama memerangi narkoba. Acara dihadiri oleh berbagai tokoh dari unsur pemerintah, akademisi, dan pimpinan pesantren, di antaranya Staf Khusus Menteri Agama Junisab Akbar, Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Banten Rohmad Nursahid, Rektor Universitas Muhammadiyah Tangerang Desri Arwen, Ketua Presidium FSPP Fadlullah, serta Ketua Dewan Pertimbangan Forum Silaturrahim Pondok Pesantren Provinsi Banten Ikhwan Hadiyin.

Pada kesempatan tersebut, Romo Syafii juga mendorong langkah konkret untuk memperkuat sistem pencegahan narkoba di lingkungan pesantren. Salah satu gagasan yang ia ajukan ialah penyusunan modul sosialisasi mengenai berbagai modus operandi peredaran narkoba yang terus berkembang.

Menurutnya, pemahaman mengenai pola-pola baru peredaran narkoba sangat penting bagi para kiai dan santri agar mampu mengenali potensi ancaman yang bisa menyusup melalui berbagai cara.

“Bisa dikomunikasikan dengan FSPP dan dijadikan modul sosialisasi kepada seluruh pondok pesantren. Semua pesantren melalui Dewan Masyaihnya bisa menginformasikan kepada para kiai dan para santri di pondok pesantren masing-masing. Sehingga kemungkinan narkoba bisa memapar lingkungan pesantren dapat diatasi dengan baik,” ujarnya.

Ia menilai kekuatan pesantren tidak hanya terletak pada sistem pendidikan formal yang dijalankan, melainkan juga pada ekosistem sosial dan spiritual yang terbentuk di dalamnya. Hubungan erat antara kiai, santri, dan masyarakat sekitar menciptakan lingkungan yang relatif lebih aman dari pengaruh negatif.

“Kalau pesantren, insyaallah, dan kita terus berdoa kepada Allah, sampai hari ini masih menjadi benteng yang sangat kuat untuk tidak menjadi konsumen narkoba. Sangat kuat. Cuma mungkin yang perlu disampaikan kira-kira modus seperti apa yang bisa membuat kita-kita di pondok pesantren ini tertipu,” kata Romo Syafii.

Ia juga mengingatkan bahwa peredaran narkoba kini semakin kompleks dengan berbagai bentuk penyamaran yang kerap tidak disadari masyarakat.

“Karena peredaran narkoba ini banyak modusnya. Ada yang memakai minuman, ada yang memakai permen, ada obat penenang, dan macam-macam cara lainnya. Pokoknya akhirnya kita bisa tertipu,” tambahnya.

Melalui kolaborasi antara pesantren, perguruan tinggi, dan lembaga negara seperti Badan Narkotika Nasional, pemerintah berharap upaya pencegahan narkoba dapat dilakukan secara lebih sistematis dan berkelanjutan. Sinergi tersebut diharapkan memperkuat peran pesantren sebagai penjaga moral masyarakat sekaligus pelindung masa depan generasi bangsa dari ancaman narkotika.

Bagikan

Terkait