Al-Shahrastani antara Hikmah dan Kalam dari Catatan Zahiruddin al-Bayhaqi

Dalam Tatimmah Shiwan al-Hikmah, Zahiruddin al-Bayhaqi menyinggung perjalanan pemikiran dan interaksinya dengan Imam al-Shahrastani, seorang tokoh besar yang dikenal karena karya-karyanya yang melampaui dua puluh jilid. Di antara karyanya yang paling masyhur adalah al-Milal wa al-Nihal, al-‘Uyūn wa al-Anhār, kisah Musa dan Khidr, serta al-Manāhij wa al-Āyāt. Dalam buku terakhir itu, al-Shahrastani terlihat mengkritik pemikiran Abu ‘Ali. Al-Bayhaqi mengingat satu kesempatan ketika ia membaca beberapa fasal dari kitab tersebut di rumah Marzatuwān. Ia mengusulkan agar setiap fasal dan sanggahan dibahas satu per satu, namun kesempatan itu tidak memadai karena perjalanan segera menuntutnya berangkat.

Meskipun karya-karya al-Shahrastani luas dan banyak, al-Bayhaqi menyebut bahwa struktur penulisannya tidak mengikuti metode para hukama (filosof). Pada satu waktu, ia menemukan sebuah majelis tulisan tangan al-Shahrastani di Khwarazm yang menunjukkan kecenderungan pada prinsip-prinsip hikmah; ia terkejut melihat kecenderungan itu karena tidak tampak jelas dalam sebagian karya lainnya.

Al-Bayhaqi mengenang pula sebuah majelis ilmiah yang mempertemukan dirinya dengan al-Shahrastani. Hadir dalam majelis itu Abu al-Hasan ibn Hamawayh, Abu Mansur al-‘Abbadi, Muwafaq al-Din al-Laithi, dan Shihab al-Din al-Wa‘izh al-Shanurkani. Dalam diskusi itu, al-Shahrastani sedang menjelaskan macam-macam bentuk taqaddum (prioritas metafisik): prioritas dzati, wujudi, tabi‘i, makani, zamani, dan syarafi. Al-Bayhaqi mengajukan pertanyaan: apakah “al-munfasil” yang ia sebut merupakan sesuatu yang hakiki atau tidak? Ketika al-Shahrastani menjelaskan perbedaan antara al-taqaddum bi al-dzāt dan al-taqaddum bi al-wujūd, al-Bayhaqi menegaskan bahwa jawabannya tidak menyentuh inti titik sengketa; ia menjawab sisi “apa”, bukan sisi “apakah” dan “mengapa”. Perdebatan itu berulang hingga akhirnya percakapan terputus karena pembahasan terus kembali pada hal yang sama.

Al-Bayhaqi juga mencatat bahwa al-Shahrastani pernah menulis tafsir dan menakwilkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan perangkat syariat, filsafat, dan pendekatan lainnya sekaligus. Pada titik ini, al-Bayhaqi memberi kritik tegas. Ia menyatakan bahwa tafsir tidak boleh dibangun kecuali melalui riwayat para sahabat dan tabi‘in. Filsafat dan disiplin hikmah, menurutnya, tidak layak dijadikan landasan tafsir, terutama pada ayat-ayat yang telah memiliki penjelasan baku. Ia mengakui bahwa penggabungan yang paling baik antara syariat dan hikmah telah dicapai oleh Imam al-Ghazali, dan penyimpangan dari kaidah itu hanya menimbulkan kekeliruan. Ucapannya membuat al-Shahrastani tampak menahan rasa tidak senang.

Al-Bayhaqi menutup penjelasan tentang al-Shahrastani dengan catatan sejarah: ia wafat di kampung kelahirannya, Shahrastan, pada tahun 548 H. Ia merupakan sosok yang dekat dengan Sultan Agung Sultan Sanjar ibn Malikshah, bahkan menjadi orang kepercayaannya.

Dari al-Shahrastani pula tersimpan beberapa aforismenya, antara lain:
“Jangan mencela seseorang atas perkara yang tidak mungkin ia ketahui; menahan diri dari sesuatu yang memudaratkanmu jauh lebih berat dibanding bersabar atas apa yang tidak kau sukai.”
Ia juga mengatakan bahwa menguasai diri saat musibah adalah bentuk kesabaran yang paling mulia. Dan dalam pandangannya, “di alam atas, orang tua lebih bercahaya daripada pemuda, dan ayah lebih matang daripada anaknya.”

Al-Bayhaqi mengutip pula prinsip yang diyakini al-Shahrastani sebagai syarat utama karya ilmiah: penulis harus menghindari tambahan yang tidak perlu, tidak mengurangi hal yang wajib dicantumkan, tidak mendahulukan sesuatu yang semestinya diletakkan kemudian, serta tidak menunda sesuatu yang layak ditempatkan di awal. Sementara al-anha’ al-ta‘limiyyah—metode dalam struktur pengetahuan—terdiri atas empat unsur: taqsim (pembagian), tahlil (analisis), tahdid (definisi), dan burhan (argumentasi).

Bagikan

Terkait