Bahaya Tertipu oleh Amal, Sebuah Nasihat Imam al-Ghazali tentang Ghurur

Dalam salah satu fasal, Imam al-Ghazali menggambarkan golongan yang tertipu oleh sedikit amal baik yang mereka miliki, sementara dosa-dosa mereka jauh lebih banyak. Mereka beribadah, namun juga bergelimang maksiat; namun tetap membayangkan bahwa ampunan akan datang begitu saja. Mereka merasa bahwa kebaikan yang hanya seujung kuku itu cukup untuk menenggelamkan lautan kesalahan mereka. Menurut al-Ghazali, anggapan semacam ini lahir dari ketidaktahuan yang sangat dalam.

Ia mengumpamakan seseorang yang memiliki beberapa dirham halal—jumlahnya sedikit—tetapi pada saat yang sama mengambil harta dari manusia dan wilayah syubhat dalam jumlah jauh lebih besar. Keadaannya seperti orang yang meletakkan sepuluh dirham pada satu sisi timbangan, lalu menaruh seribu dirham pada sisi lain, kemudian berharap sisi yang berisi sepuluh dirham itu lebih berat. Sikap semacam ini, kata al-Ghazali, tidak lain hanyalah bentuk kesesatan cara berpikir.

Pada fasal berikutnya, al-Ghazali membahas mereka yang mengira ketaatan mereka banyak, padahal yang mereka simpan hanyalah serpihan-serpihan amal. Ia mencontohkan seseorang yang rajin beristighfar atau bertasbih ratusan hingga ribuan kali dalam sehari, tetapi pada hari yang sama lisannya dipenuhi ghibah, ucapan yang menyakiti, dan kata-kata yang tidak pernah diridai Allah. Mereka terpesona oleh keutamaan yang disebutkan dalam hadis-hadis tentang tasbih, tetapi menutup mata terhadap ancaman bagi orang yang menggunjing, berdusta, menebar fitnah, dan bersikap munafik.

Al-Ghazali menegaskan bahwa keadaan seperti ini murni bentuk ghurūr—ketertipuan diri. Baginya, menjaga lisan dari dosa jauh lebih mendesak dibandingkan memperbanyak dzikir dengan lisan yang sama. Karena dzikir yang tidak disertai penjagaan anggota tubuh tidak pernah menjadi penolong. Sementara dosa yang keluar dari lidah yang tidak dikendalikan dapat menghapus nilai dari seribu tasbih yang dilafalkan.

Bagikan

Terkait